Ads Ads

JAM

Senin, 13 Februari 2017

MEMOMPA SEMANGAT BERPRESTASI



MEMOMPA SEMANGAT BERPRESTASI
          Mengapa ada orang yang sangat ingin berprestasi? Terlepas dari apa motivasi seseorang itu meraih prestasi, mereka selalu mempunyai kesamaan, yaitu mempunyai energi yang melimpah, berani menghadapi tantangan dan ambisi besar untuk diwujudkan. Itulah kenapa banyak pakar berpendapat bahwa keberhasilan adalah sikap. Salah satu faktor yang menyebabkan seseorang terus gigih meraih prestasi adalah kemampuannya memompakan semangat untuk berprestasi. Berikut beberapa tips untuk tetap semangat berprestasi:

1.     Jadilah diri sendiri
Jika ambisi anda berprestasi adalah untuk mengalahkan orang lain, ada akan segera kehabisan energi positif dalam bekerja. Dorongan yang muncul lebih banyak bersifat negatif yang dapat mengganggu kejernihan pandangan anda. Jangan bandingkan diri anda dengan orang lain. Kenali saja siapa diri anda, dan jadilah diri anda sendiri. Itu jauh lebih sehat bagi kepribadian anda.

2.     Menyusun visi, target dan schedule pencapaian
Susunlah gambaran besar yang ingin anda raih di masa depan. Buatlah sesulit mungkin, namun percayalah anda bisa mencapainya. Lalu kembangkan kedalam target-target jangka pendek, serta tentukan waktu kapan anda akan meraihnya. Perjalanan sejauh ribuan kilometer dicapai dengan selangkah demi selangkah.

3.     Belajar terus dan berusaha untuk mempunyai keahlian khusus
Jangan berhenti belajar, namun tak perlu mempelajari semuanya. Kenali apa kekuatan anda untuk menjadi seorang ahli agar anda mampu menuntaskan pekerjaan dengan hasil yang baik. Anda akan merasakan kesenangan jika anda mampu menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Mempelajari semua hal memang baik untuk menambah wawasan dan kebijakan, namun jika anda tak punya sebuah keahlian yang menjadi keunikan diri anda sendiri, maka anda takkan tahu apa yang ingin anda kerjakan dengan baik. 

4.     Melakukan apa yang anda sukai
Lakukan apa yang anda sukai. Ini akan menumbuhkan semangat dan kesenangan dalam setiap pekerjaan. Anda akan temukan bahwa keberhasilan bukan sesuatu yang ada di depan sana, namun berjalan seiring dengan apa yang anda kerjakan.

5.     Jangan menyia-nyiakan peluang
Jangan terlalu banyak memikirkan masalah uang atau penghasilan yang anda peroleh. Jauh lebih penting anda memperoleh tanggungjawab yang sesuai dengan kemampuan anda lalu bersungguh-sungguh mengerjakannya. Pikirkan bagaimana anda bisa memperbaiki keadaan yang ada dalam tanggungjawab anda. Seringkali keberhasilan besar bersembunyi di balik sebuah peluang yang kelihatannya sepele.

6.     Temukan kegembiraan dalam setiap langkah
Perhatikan anak-anak kecil belajar, mereka menunjukkan kegembiraan saat berangkat sekolah, saat di kelas, saat beristirahat, saat pulang bahkan saat mengerjakan PR mereka. Temukan kegembiraan yang sama di setiap langkah anda. Jika anda tak menemukannya, mungkin anda berada di jalan yang keliru. Segera renungkan kembali apa yang ingin anda raih.

7.     Berbagi atas keberhasilan yang bisa diraih
Tak apa jika anda ingin menikmati sebuah keberhasilan kecil yang bisa anda raih. Namun, jangan semata-mata melakukannya sendiri. Bagilah dengan orang lain. Berbagi kegembiraan justru melipat gandakan kegembiraan anda. Ucapan selamat yang diberikan orang lain pada anda sangat efektif untuk memompa semangat anda meraih yang lebih baik lagi.

8.     Tidak bersedih atas kegagalan
Satu hal yang sangat meruntuhkan semangat adalah kegagalan. Namun, mereka yang mempunyai keinginan berprestasi tinggi, kegagalan justru memacu mereka untuk belajar dan berusaha lebih baik lagi. Terimalah kegagalan sebagaimana adanya. Buka kembali buku pelajaran anda, mungkin ada yang terlewatkan. Berlatih terus dan coba lagi. Keberhasilan selalu didahului oleh kegagalan. Itu mengapa orang bijak mengatakan, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda.
         


Adapted from:
Nothing Impossible, Teguh Wiyono, 2009.

Selasa, 03 Januari 2017

GALAU KARENA CINTA?





 Kamu-kamu yang masih “galau” karena cinta, simak baik-baik nih kisah:

        Tengoklah kisah Ali bin Abi Thalib dengan putri Baginda Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra, kisah cinta teladan sepanjang masa. Bagaimana enggak, guys? Ali dan Fatimah telah saling jatuh hati jauh sebelum mereka dipersatukan dalam ikatan suci. Mereka menyimpan perasaan mereka dengan sebaik mungkin, terjaga kerahasiaannya dalam sikap, ekspresi, dan kata. Mereka titipkan segala perasaan mereka kepada Sang Pemilik Hati yang paling hakiki, yaitu Allah SWT. Mereka benar-benar menjaga hati mereka. Rasa cinta mereka cukup dibawa dalam doa dan sujud di tiap malam sembari terus memantaskan dan memperbaiki diri.
      Ali terpesona kepada Fatimah sejak lama disebabkan oleh kesantunan, ibadah, kecekatan kerja, dan paras putri kesayangan Rasulullah SAW itu. Dia pernah merasa hampir putus asa saat mengetahui Abu Bakar dan Umar bin Khattab lebih dahulu melamar Fatimah, sementara dirinya belum siap untuk melakukannya. Namun, kesabarannya berbuah manis. Lamaran kedua orang sahabat yang tak diragukan lagi kesalehannya tersebut ternyata ditolak Rasulullah SAW. Akhirnya, Ali memberanikan diri dan ternyata lamarannya kepada Fatimah yang hanya bermodal baju besi diterima.
        Di sisi lain, Fatimah juga ternyata telah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat, dikisahkan bahwa suatu hari setelah keduanya menikah, Fatimah berkata kepada Ali, “Maafkan aku karena sebelum menikah denganmu, aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta kepada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”. Ali pun bertanya mengapa Fatimah tetap mau menikah dengannya dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya. Sambil tersenyum, Fatimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu”.
          Betapa romantisnya, guys…. ^_^

         So, kamu enggak perlu galau lagi kalau cintamu ditolak atau pacaran, tapi ditinggal pergi.  Hidup engga sekedar untuk menangisi apa yang belum kita miliki dan apa yang tela pergi. Life must go on, guys. Hidup kalian masih panjang. Cita-cita kalian jauh lebih penting daripada pacaran. Memangnya pacar bisa kasih uang saku kalau kamu lagi enggak ada uang? Memangnya doi mau nanggung masa depanmu kalau kamu gagal? Enggak, kan? Mereka sekedar menganggap hubungan pacaran sebagai senang-senang semata. Jangan sampai kalian sia-siakan masa keemasan kalian, masa yang begitu berharga, waktu ketika kalian harus belajar mengasah diri, memperbaiki diri, memperkuat kualitas diri agar menjadi pribadi, sebaik-baiknya. Kalau pribadimu baik, pasti suatu saat kamu akan mendapatkan cinta yang baik pula, yaitu istri yang salihah atau suami yang saleh. Jadi, simpanlah dulu cintamu. Sampaikan saja pada Allah SWT dulu, karena cinta yang hakiki itu adalah ketika kamu bisa mencintai karena Allah SWT semata. Bersabarlah, biarkan segalanya bersemi indah pada waktu yang tepat layaknya cinta Ali dan Fatimah☺.
 
       Ketertarikan dengan lawan jenis memang lumrah. Namun, bahaya kalau kamu enggak bisa mengelola manajemen hatimu sendiri. Seandainya ada yang mengatakan cinta karena kamu baiklah, pandailah, atau ada yang sampai bilang kamu saleh dan salihah, tetap saja perasaan itu masih terbungkus nafsu. Pertama, mungkin baru sekedar curi-curi pandang. Setelah itu, nge-date bareng, eh, pegang-pegang deh… pakai bilang, “Aku sayang sama kamu…”. Kalau iman sudah sama-sama lemah, bablas deh!
       Memang iya guys, ada juga yang menjalin hubungan sejak remaja atau SMA hingga mereka akhirnya menikah. Namun, apakah kamu enggak ingin menjaga dirimu dahulu? Ibarat puasa, apa bedanya ingin berbuka di tengah hari dengan berbuka pada waktunya? Berbuka memang nikmat ketika kita benar-benar merasa haus, terlebih merasa enggak kuat.
       Akan tetapi, lebih nikmat mana dengan saat kalian berusaha menahan semua godaan, baik makan maupun minum sampai waktunya berbuka? Sungguh rasanya amat nikmat ketika kita bisa berbuka pada waktunya. Puasa bisa penuh, godaan terlewati, eh, masih dapat nikmatnya berbuka yang tiada tara, plus bonus pahala langsung dari Allah SWT. Nah, berlipat-lipat kan manfaatnya? Begitu juga dengan keinginan kalian pacaran. Jatuh cinta memang enggak salah guys, dan kamu enggak perlu menyalahkan cinta. Kita hanya perlu berupaya menjaga hati sampai waktunya tiba.


Adapted from:
Ngaku Gaul kok Galau, Khalilah Demunisa, 2014.

HIststs